Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
bulan tak pernah memilih bergelantungan
pasir gurun juga tak pernah menginginkan tandus
jika ada kesempatan berpikir,
burung-burung di udara mungkin akan mengisakkan peluh,
terbang memang melelahkan
tapi kepala kami tak pernah mau berdiam diri,
menggerayangi mimpi, mencari jejak kosong
lalu memaksakan diri
meniti kehendak bermodal bara api

tanpa kapal, orang seberang mendatangi pulau, via aspal udara
saat tanah habis, langit-langit rumah menjadi tanah baru
ketika tak ada jalan, orang bilang jalan buntu
selalu ada warna baru, meski waktu tak pernah mau bercermin
bahkan tak sekalipun mau mematahkan langkah

kita tak kan pernah tau kapan kehilangan darah
kita tak kan pernah sampai, berjalan menapaki semesta
kita tak kan pernah bisa mencibir segalanya

protes adalah bagi mereka yang ingin meminta lebih
sedangkan berpikir adalah cara orang cerdik untuk memilih

2017
Mengusik Batas
Rabu, Januari 25, 2017

Mengusik Batas

www.noormuslima
Melirik bilik warna kemuning dari kejauhanSelayang percik tungku tanpa baraKertas putih tertiup angin mengusangLampion padam lenyap entah kemanaBerkas terseok asap cokelat berhamburanKawanan musang hitam penuhi sabanaSedang senja-senja itu berubah memburam

2014
Tentang Senja-senja
Jumat, Januari 23, 2015

Tentang Senja-senja

http://harianterbit.com/megapol/read/2015/01/21/17011/18/18/Hari-Ini-Jakarta-Hujan-Rintik-rintik
Langit menggerutu gelombang bunyi yg tampak samar
Diseberang awan-awan terbelah memuntankan hujan
Tanah berujung mengarak air mengalir turun
Kelopak mata daun-daun basah nikmati rintik yg indah
Kehidupan diluar sana sedikit menyusahkan elang terbang
Sedang kawanan di bawah atap mendekur lelap dalam selimut
Dan senyum adalah satu jawaban yg menyenangkan 

2014


Hujan Tematis
Rabu, Januari 21, 2015

Hujan Tematis

https://www.flickr.com/photos/j_snyder/12694815865/
Malam layaknya lentera pecah beralih buram lalu memadam. 
Sungguh alangkah malang sesaat ia dilahap hujan. 
Bulan itu tak juga menampak meski dengan mata terpejam. 
Ketika latar kosong retaskan sunyi bersuara bising ambigu. 
Sejenak ilalang seberang jalan membiarkan petang berkeliaran. 

Semburat indah keemasan memeluk gelap nyaris saja. 
Sedang nafas angin berhembus kibaskan embun menggigil.
Entah api tengah berbara atau sekedar lampu menyala.
Tadinya yang gulita beranjak gemerlap secercah mewarnai.
Hingga alur cerita sebelum cahaya kian mendekati sirna.
Mentari hinggap tersenyum melayangkan selamat pagi.



Hampir di penghujung desember, teruntuk seorang kawan.
2014
Malamku
Selasa, Januari 20, 2015

Malamku

http://www.noormuslima.com/cerpen-impian-fajar/
Fajar
Sendawa malam berlalu
Terobati embun basah
Angin berhembus
menghempaskan nafas malam
Terlihat ia tewas sebelum cahaya
Kemudian terbit setelahnya




2010
FAJR
Jumat, September 30, 2011

FAJR

Gulita
Antara matahari yang sedang sekarat 
di ufuk barat
Dan matahari yang datang terlambat 
di langit timur
Antara  langit yang bersebunyi di bilik senja
Dan fajar yang hampir terengah terbit



2011
GULITA
Jumat, September 30, 2011

GULITA

Mataku tak kasat
Memandang di balik dinding rebah itu
Camar dikerumuni semak-semak liar
Terlalu banyak bayangan tumpukan pantai
Tak tertonton apa warnanya
Wah, hah, atau fuh kah?
Atau ia sama saja dengan yang lain
Yang berada di balik dinding-dinding lain
Aku terpaksa tak tau
Pandangku terhalang selaput putih bening
Dan aku buta di buatnya


2010
Cermin Pasir
Sabtu, Desember 25, 2010

Cermin Pasir

Iblis indah itu ada di mana saja
Diatas gunung
Ia membusungkan dada
Di bawah jembatan
Ia melotok menatapku
Di sepanjang jalan
Ia berdiri tegap dihadapanku

Iblis indah itu ada di mana-mana
Di tengah kota ramai
Ia berderet rapi sepanjang ruas jalan
Di sudut perkampungan kumuh
Ia duduk santai di sana
Di pintu-pintu masjid
Ia terlentang lepas menggendong lelah

Iblis indah itu ada di mana saja
Setiap kali mata terjaga
Aku menatapnya
Setiap kali kaki melangkah
Aku tesandung olehnya
Setiap kali tanganku melambai
Ia kembali melambaikan tangannya

Iblis indah itu bernama penderitaan

Bantul,2010
Iblis Indah
Sabtu, Desember 25, 2010

Iblis Indah

Di dunia akar minus
Tuhan tak lagi duduk diatas singgasananya
sebagai pencipta
Dengan kehendak yang hadir tanpa permisi
Orang-orang menciptakan sendiri alam semestanya
Mereka mencipta manusia-manusia, binatang-binatang,
atau pepohonan
Bahakan benda mati mereka sendiri
Serta menentukan takdir
Juga hidup dan matinya suka-suka
Alam mereka di gerakkan digerakkan dengan kekuasaan mereka
Seperti sebandrol boneka kayu
Diikat leher waktu persis seekor anjing yang takluk pada tuannya
Semua berjalan terserah tangan mereka
Karena merekalah yang kuasa
di dunia akar minus  itu


Krapyak, 2010
Dunia Akar Minus
Sabtu, Desember 25, 2010

Dunia Akar Minus

Karya : Taufiq Ismail


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
TUHAN 9 CENTI
Rabu, Desember 08, 2010

TUHAN 9 CENTI

Tiada Tuhan

Tiada yang maha kuasa
Tiada yang maha adil
Tiada yang maha menciptakan
Tiada yang maha segala-galanya

Tiada yang rahman
Tiada yang rohim
Tiada yang ghofur
Tiada yang memiliki asma yang husna

Tiada yang boleh memberhamba
Tiada yang boleh berfirman
Tiada yang boleh mengendalikan
Tiada yang boleh berkuasa

illaLlah... kecuali Allah
Asyhadualla ilaha illaLlah
Aku bersaksi  bahwasanya tiada Tuhan selain Allah



Ahmad Tanpa Huruf Mim, menjelang Muharram 1431
TIADA
Minggu, Desember 05, 2010

TIADA

Nafas Ilahiyah
Menghembuskan benih-benih kehidupan
Memberikan sentuhan pada tanah-tanah tandus itu
Memancarkan percikan-percikan nur Muhammad

Nafas Ilahiyah
Merasuki roh dengan tasbih
Kemudian berhembus dengan kalam tahmid
Bersama massa melambungkan tinggi nama-namaNya

Nafas Ilahiyah
Melebur gerik-gerik syahwat sayyiah
Memacu gerak-gerak minal hasanah
Meradang lorong-lorong jalan buntu
Lalu menuntun menuju ruas-ruas jalan yang lurus

Nafas Ilahiyah
Menutup jendela kebiadaban
Kemudian pintu keabadian

Dengan nafas Ilahiyah
Membangun nafsul mutmainnah
Kemudian berimbas khusnul khotimah

Afala tuhibbun? Apa kamu tak senang?


Ahmad Tanpa Huruf Mim,
Di malam yang jengah, Ahad Desember 2010
Nafas Ilahiyah
Rabu, Desember 01, 2010

Nafas Ilahiyah

Ingin ludahkan aku sepatah sua
Dua patah sua
Atau bahkan seribu patah sua padamu

Kali ini bukan lisan ini
Atau lisan-lisan lain yang berani meludahkannya
Ya, tepat sekali
Persis apa yang kau rasakan
Gumpalan onggokan daging ini
Ia ingin bersua, memuntahkan isi semua
Sssstttt....
Sebentar! Kumohon....
Diamlah...!
Ia ingin menyatakan sesutau padamu

Kemudian...
Berkatalah ia...
" Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sayang padamu,
dan selebihnya biarlah sang waktu yang melanjutkannya"
Dan biarkan mengalir...

Tak apa kan tentang apa yang aku katakan?

Ahmad Tanpa Huruf Mim, Agustus 2010
SUARASA
Selasa, November 30, 2010

SUARASA